THS-THM masuk ke Keuskupan Bogor lewat beberapa jalur. Berikut kompilasinya.
Secara garis besar ada 6 periode yang dapat dicatat.
Periode I – Korespondensi dengan Seminari Bogor (1987)
Pada awal tahun 1987, salah seorang anggota THS-THM dari Jakarta memperkenalkan adanya kegiatan latihan THS-THM kepada ibu Sutadi, seorang therapist tradisional Katolik di Bogor, yang kemudian beliau membantu menuliskan surat kepada Rm Yoseph Hardjono, Prefek Seminari Menengah Stella Marris, Bogor. Ibu Sutadi memberi pengantar agar THS-THM dapat dilatihkan di Seminari. Rm. Hardjono kemudian membicarakan dengan Rektor Seminari saat itu RP. J. Remedius Wijbrands, OFM. Hanya sayang Pastor Rektor belum dapat menerima pemahaman dengan baik bagaimana pencak silat berpadu dalam penyemaian bibit panggilan ke seminari.
Periode II – Latihan di Seminari Stella Maris Bogor (1987)
Pada pertengahan 1987, sekelompok seminaris di Seminari Menengah Stella Marris Bogor memulai latihan diam-diam di bangsal seminari. Latihan diam-diam ini seperti mengulang kembali peristiwa perintisan latihan silat di Seminari Mertoyudan di tahun 1981. Latihan menjadi aman karena Prefek Seminari, Rm. Yoseph Hardjono telah memahami maksud adanya latihan THS-THM dari ibu Sutadi melalui suratnya beberapa bulan sebelumnya. Sebagian dari para seminaris itu memang sudah menjadi anggota THS-THM dari Tanjung Priok – Jakarta, juga ada dari Paroki Paskalis – Jakarta. Mereka antara lain adalah Antonius Siprianus Patty Boly, Yustinus Herry Sulistio, Stefanus Ope Tolok, dan Stevanus Edward Wannee. Adapun seminaris Edward Wannee adalah salah seorang anggota THS Angkatan I dari Paroki Tanjung Priok Jakarta. Salah seorang seminaris dari Paroki Paskalis – Jakarta, adalah Yulius Himawan, saat ini beliau adalah imam biarawan OSC yang bertugas di Keuskupan Agats-Asmat. Setelah para seminaris tersebut lulus dari seminari, latihan tidak berlanjut lagi, karena Pastor Rektor tetap belum mengizinkan latihan THS di Seminari Bogor.
Periode III – Latihan di Cibinong (1988)
Pada pertengahan 1988, THS-THM Jakarta menerima permintaan melatih THS-THM secara resmi di Paroki Keluarga Kudus Cibinong. Peserta latihan hampir mencapai 100 orang yang terdiri dari orang tua, dewasa, remaja dan anak-anak. Para peserta latihan sangat bersemangat berlatih, hanya sayang karena terbatasnya tenaga pelatih saat itu yang rata-rata masih berstatus pelajar SMA dan terlalu beragamnya jenjang usia peserta, maka belum sampai pendadaran latihan tersebut terhenti dan belum dilanjutkan kembali. Jika ingin dicatat kapan pertama kali terjadi latihan THS-THM secara resmi di Keuskupan Bogor, sepertinya catatan peristiwa latihan di Cibinong ini dapat ditetapkan, tanpa mengesampingkan bahwa satu tahun sebelumnya pernah ada latihan THS-THM di Seminari Bogor.
Periode IV – Latihan di Sukasari (1990)
Pada tahun 1990, kembali THS-THM melayani latihan THS-THM secara resmi di wilayah Keuskupan Bogor. Kali ini latihan rutin dilaksanakan untuk kaum muda Paroki St. Fransiskus, Sukasari, Bogor. Latihan dibimbing secara insentif oleh THS-THM Ranting Paroki HSPMTB Tangerang yang dipimpin oleh Theodorus Tjahjadi Tanudjaja (saat ini adalah salah seorang anggota THS-THM tingkat Madya) di bawah Koordinasi Pengurus Distrik Jakarta (pada tahun 1990 masih disebut DPC Jakarta). THS-THM Ranting Sukasari Bogor ini kemudian tercatat sebagai ranting perdana di wilayah Keuskupan Bogor, setelah melalui pendadaran di Perkebunan Cipaku dan pelantikan di Gereja St. Fransiskus Asisi Sukasari, Bogor.
Agustinus Rustantio adalah salah satu anggota Angkatan pertama ranting Sukasari yang sempat menjabat sebagai Sekretaris II DPP THS-THM tahun 1992.
Periode V – Latihan di beberapa Paroki di Keuskupan Bogor (1990-1994)
Pada periode tahun 1990 sampai dengan 1994, THS-THM di wilayah Keuskupan Bogor dimulai di beberapa tempat dalam waktu yang tidak bersamaan dan bersumber dari permintaan yang berbeda, antara lain di :
1. SPK Misi Yatna Yuana Lebak, sebuah Sekolah Perawat Kesehatan milik misionaris yang berada dekat Gua Maria Kanada, Rangkasbitung, Banten (1990), yang dilanjutkan di Paroki Santa Maria Tak Bernoda, Rangkasbitung, Banten (1991). Setelah beralih ke Paroki, latihan tidak berlanjut lagi.
2. Paroki Santo Yusuf, Sukabumi, Jawa Barat (1992-1993) dan Paroki Santo Petrus, Cianjur, Jawa Barat (1993-1994). Pada mulanya latihan THS-THM dibimbing oleh tim pelatih DPC THS-THM Jakarta namun kemudian dialihkan ke tim pelatih dari Koordinatorat THS-THM Bogor. Setelah pelantikan, latihan tidak berlanjut lagi.
3. Paroki Santo Matias, Cinere, Depok, Jawa Barat (1993-1994). Oleh sebab di wilayah paroki ini terdapat Sekretariat Nasional THS-THM maka permintaan latihan THS-THM di Paroki Santo Matias ini dapat terlayani dengan baik oleh tim Pelatiih dari DPC THS-THM Jakarta. Jumlah pesertanya tidak terlalu banyak.
4. Beberapa paroki di kota Depok (1993-1994) juga meminta pengadaan latihan THS-THM. Meskipun sempat terlayani, tetapi untuk waktu yang sangat lama, kegiatan latihan terhenti.
Periode VI – Latihan di Katedral Bogor (1993)
Pada tahun 1993, Ignatius Adi Nugroho (saat ini sebagai salah satu anggota THS-THM Tingkat Madya) sambil menempuh pendidikan di Bogor mulai melatih THS-THM bagi OMK Paroki BMV Katedral Bogor. Mulai sejak itu, latihan THS-THM di wilayah Keuskupan Bogor lebih stabil dan kaderisasi mulai berjalan. Kemudian dilanjutkan dengan pembukaan ULK THS-THM SMA Regina Pacis Bogor. Tempat ini menjadi bersejarah karena pada tahun 2004, dilakukan pengambilan video materi latihan THS-THM seri Pendalaman Iman, Latihan Rekreasi, dan Latihan Organisasi, yang memuat pengucapan Janji Prasetya, Mars THS-THM, Hormat dan Salam, serta Yel-yel Keakraban; diperagakan oleh THS-THM Ranting Paroki Katedral Bogor dan ULK SMA Regina Pacis Bogor.
Dalam perjalanan Sejarah THS-THM di Keuskupan Bogor ini tidak terlepas dari dukungan penuh dari Bapa Uskup yang menjadi gembala di sana. Yaitu mulai dari Mgr Ignasius Harsono yang berkenan mengizinkan wilayah Keuskupannya menjadi pusat kedudukan pusat THS-THM berdasarkan AD/ART versi Musyawarah Nasional THS-THM tahun 1992, serta diterimanya Rm J. Sandharma Akbar yang saat itu menjadi anggota Dewan Pendiri THS-THM untuk beralih dari imam diosesan Keuskupan Padang menjadi imam diosesan Keuskupan Bogor yang kemudian diperkenankan berdomisili di wilayah Keuskupan Bogor. Kemudian Mgr Cosmas Michael Angkur OFM yang terus memantau perkembangan THS-THM di Keuskupan Bogor maupun kadang memberi dukungan semangat di tingkat nasional. Dan terakhir Mgr. Pascalis Bruno Syukur OFM, yang ikut merestui kuria Keuskupan Bogor memberikan review atas penyusunan Konstitusi THS-THM yang kemudian mendapat pengesahan Gereja melalui Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko tahun 2024 silam.
Penulis: Laurensius Ian Mayensi
Editor: Andreas Cahyo Bawono
untuk nama Yulius Hirnawan tampaknya salah tulis. Yang benar Yulius Himawan
Terimakasih atas koreksinya